Home

Advertisement

Customize
 
 
05 September 2008 @ 01:04 pm
Carry (?) - Gazette - 3/??  
Staring: GazettE boys
Warning: writen in Indonesian
Chap: 3/??
genre: ntahlah, blm tau
rating: PG for now

Disclaimer :

Cerita dibawah ini meminjam karakter dan jati diri personel band The GazettE. I’m not them, I do not own them either, and I don’t have any relationship with them. The story below just from my head and pure fiction. Tidak merusak lingkungan dan dijamin just for fun.

~.~.~.~.~

“Lho, ngga buka yah?” gumam seorang pemuda di depan sebuah rumah mungil bercat putih dan berpapan nama drh. Takanori Matsumoto.

“Mau periksa?” suara dari samping membuat pemuda itu terlonjak.

“Iya –eh, kucing gw yang mau periksa, dodol! Bukan gw.” Pemuda itu menghardik tapi tak urung ia tersenyum ketika mengenali orang disampingnya. Si dokter hewan itu sendiri.

“Ya udah, yuk masuk.” Ajak Ruki pada pasien yang tidak sopan itu.

“Kenapa pada tutupan semua, Ru?”

“Gw tadi abis ke minimarket. Ya gw tutup bentar. Kucing lw kenapa lagi, Kai?” Ruki masuk ke ruang prakteknya, membuka semua jendela dan pintunya lebar-lebar hingga ruangan itu terang. Ia mengambil sarung tangan karet dan memakainya.

“Ini nih, liat tu bulunya pada rontok. Ada jamur gitu deh kayaknya.” Kai menyodorkan kucingnya, persia abu-abu dengan hidung pesek, ke gendongan Ruki. Si kucing menjuntai lemas, tidak berkeinginan untuk melawan.

“Cinih kucing, aaakuh liat dulu kamunyahh~~” Ruki bicara pada kucing itu dengan gaya imutnya lalu meletakkan kucing itu di meja periksanya dan meneliti semua bulu-bulunya yang lebat.

“Trus dia jadi pendiem banget, ngga pecicilan kayak dulu.”

“Tenang tenang… biar gw cek dulu.” Ruki meneliti bulu-bulu itu lagi untuk kedua kalinya.

“Hmm, Furry ni diserang mites.”

“Apa? Mitos?” Kai tidak bisa menghubungkan rontoknya bulu kucingnya dengan serangan mitos.

“Bukan mitos, gebelgh! Mites! M-I-T-E-S!” Ruki terpaksa mengeja.

“Oo… apa itu mites Ruki-sama?” Kai meringis tanpa dosa.

“Mites itu sejenis binatang yang menghisap cairan tubuh di kulit. Nah, si Furry bulunya jadi rontok karena kulitnya rusak.” Ruki menunjuk bercak-bercak di bawah bulu-bulu Furry yang masih tersisa.

“Aduuuh, kamuh kena kutu yaa, Furry~~ gimana ngobatinnya?” ujar Kai cemas sambil membelai-belai gundukan bulu abu-abu itu dengan penuh kasih sayang. Si kucing hanya diam, sama sekali tidak merespon apa-apa.

“Gw punya antibiotiknya kok. Tunggu bentar.” Ruki meninggalkan Kai dengan kucingnya yang teramat pasif dan menggeledah lemari obatnya. Kemudian ia kembali dengan sebutir tablet dan sebuah alat yang menyerupai alat suntik dan alat suntik itu sendiri.

“Eh, pake disuntik?”

“Iya. Nah, tolong pegang kaki ma tangannya.” Kata Ruki. Kai melakukan apa yang diperintahkan Ruki. Si kucing berontak, tapi manusia terlalu kuat buatnya. Dan Ruki dengan mudah menyuntikkan cairan entah apa ke bagian kakinya.

“Duh duh, Furry cayang, ga pa pa yah, atit dikit~~” bujuk Kai. Kucing itu mengeong, tetap memberontak.

“Sebenernya ngga sakit kok, dia cuma panik karena kita pegangin kayak gini.” Ujar Ruki sambil meletakkan alat suntiknya di meja lain.

“Oh…” Kai merespon dengan muka cemas.

“Udah, kakinya lepasin aja. Cekalang makan obatna yaaa~~~” Ruki membuka mulut kucing itu dengan paksa dan menembakkan tablet obat dengan alat yang menyerupai alat suntik tersebut. Si kucing mau tak mau harus menelan obat itu.

“Ga pa pah, ga pa pah~~” Kai masih dengan nada termanisnya. Ia melepaskan kucing itu dan si kucing diam lagi.

“Nah, selesai. Kamu tinggal olesin ini aja ke bagian kulit yang kering itu. Trus kalo bisa mandiinnya seminggu sekali. Jangan biaring dia dapet udara panas, soalnya otomatis dia bakal ngerontokin bulu sendiri. Oya kasih makanan yang bagus, yang lengkap gizinya.” Jelas Ruki sambil memberikan sebotol salap pada temannya.

“Oke, trims ya.”

“Kamuh kucing, jangan bobo di lante yah~!” Ruki bicara pada Furry sambil menepuk-nepuk puncak kepala hewan berbulu itu. Setelah membayar jasa Ruki, Kai berlalu.

Ruki diam lama. Ia harus tetap profesional walaupun bencana sedang menerpanya. Sambil berjalan ke westafel, ia membuka sarung tangan karetnya. Belum ada satupun orang yang tahu tentang keadaannya. Ia hanya menyimpannya untuk dirinya sendiri. Sejauh ini, ia merasa aman. Dan ia hanya bisa bersyukur karena ia tidak tinggal dengan keluarganya. Dengan begitu ia tidak perlu membatasi dirinya terhadap apapun di rumahnya sendiri.



== to be continue
 
 
Current Location: nowhere
Current Mood: i feel terrible
Current Music: guren - the gazette
 
 
 
 

Advertisement

Customize