Home

Advertisement

Customize
 
 
05 September 2008 @ 12:49 pm
Carry (?) - Gazette - 2/??  
Staring: GazettE boys
Warning: writen in Indonesian
Chap: 2/??
genre: ntahlah, blm tau
rating: PG for now

Disclaimer :

Cerita dibawah ini meminjam karakter dan jati diri personel band The GazettE. I’m not them, I do not own them either, and I don’t have any relationship with them. The story below just from my head and pure fiction. Tidak merusak lingkungan dan dijamin just for fun.

~.~.~.~.~


Anytime, anywhere, any place. You could be anyone today
Maybe I recognize you on the crowded street


Terbangun dari mimpi yang sama seperti beberapa malam sebelumnya, Reita mendapati dirinya terisak di kasurnya. Sebenarnya mimpi yang didapatnya bukanlah mimpi tragis sehingga bisa membuatnya terisak sedemikian rupa. Ada sesuatu di dalam mimpinya itu, yang terlalu samar dan Reita tidak bisa mengingatnya, membuatnya merasa begitu ngilu di jantungnya. Reita tidak ingat mimpinya, ya. Tapi ia bisa memastikan bahwa itu adalah mimpi yang sama, yang membuatnya selalu terbangun dengan keadaan yang sama.

Ia turun dari kasurnya dan keluar dari kamarnya yang remang-remang. Menghela nafas sambil menyambar rokok dan korek apinya, ia berjalan menuju balkon apartemennya. Pemandangan kota pada jam satu dini hari tidaklah sepi. Lampu-lampu dan suara kendaraan yang lalu lalang di bawah sana membuat suasana apartemennya di lantai 30 itu sedikit berwarna.

Reita menyalakan rokoknya. Selalu begitu. Setiap kali ia terbangun dari mimpinya yang aneh itu, ia tidak bisa kembali tidur. Dan ia selalu berakhir disini, di balkon ini. Suara pintu dibuka membuat Reita menoleh ke araj belakangnya. Seorang pemuda jangkung, rambut sewarna madu, menggunakan celana training dan singlet hitam keluar dari kamar lain di apartemen itu. Wajahnya kusut dan ia berhenti ketika melihat Reita menatap padanya.

“Eh?” katanya.

“Mau kemana lw?” tanya Reita.

“Lw ngapain disitu?” Uruha balik bertanya.

“Merokok.”

“Iya, lw pikir gw buta! Ngapain lw merokok jam segini?”

“Abis dapet wangsit.” Jawab Reita, kembali berbalik menatap kota di bawahnya dan menghisap rokoknya dengan satu hisapan dalam.

“Dapet apa?” Uruha mendekati Reita. Ia heran, mengapa temannya selalu bangun pada jam-jam yang tidak biasa.

“Gw dapet mimpi itu lagi, Uru.” Jawab Reita.

“Oh, mimpi yang lw sama sekali gak bisa inget itu?” tanya Uruha. Reita mengangguk.

“Gw heran deh, itu pasti pertanda. Tapi gw ga tau tu pertada apaan.” Ujarnya, hampir pada diri sendiri. Tapi Uruha mendengarnya.

“Coba aja lw inget, kita bisa tanya ke ahli mimpi.”

“Kalo gw inget, udah gw tanyain dari dulu-dulu. Sebulan penuh mimpi kayak gitu bikin pusing.”

“Yah, udah deh. Itu masalah lw. Eh, gw tadi keluar dari kamar mo ngapain yak?”

“Hah?”

“O iya! Gw kan mau mpis! Gara-gara ngliat lw ni, jadi lupa gw sama tuntutan alam.” Lalu Uruha berlalu.

Kembali Reita menghela nafas. Ia tidak dapat mengingat mimpinya sama sekali. Ia penasaran dan terus menggali lipatan-lipatan ingatannya, memaksa listrik-listrik di otaknya untuk terus mengingat dan mengingat. Dan seperti malam-malam sebelumnya, ia tidak dapat mengingat apa-apa.


== to be continue

 
 
Current Location: here, im my own space
Current Mood: damn!
Current Music: ganges ni akai bara - the gazette
 
 
 
 

Advertisement

Customize